Posted by Nur Maulidiyah | Posted in Muslimah, parenting | Posted on 21-02-2012
Tags: halal, Indonesia, makanan halal, taiwan, warung
Kalau menurut peptah, bukan hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup. Ya, makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia .Dan manusia tentu berbeda dengan hewan yang akan makan tanpa berfikir milik siapa *tidak heran kucing maupun anjing mencuri
*, tetapi kalau manusia barulah seharusnya kita
.
Manusia selayaknya makan makanan yang halal lagi thoyib seperti yang diperintahkan Allah di dalam Alqur’an
كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya,” ( QS. Almaidah :88) dan “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu,” (QS.Albaqarah :168).
Baik dari barangnya maupun cara mendapatkannya,, tidaklah betul ungkapan yang mengatakan “cari makan yang salah saja susah, apalagi cari makan yang bener”". Sebetulnya susahnya kita mencari rizki juga bisa jadi dari apa yang kita makan , sehingga tertolaklah doa-doa.Selengkapnya bisa dibaca di tulisan saya yang ini http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/ibu-dan-calon-ibu-perhatikan-makanan-keluarga-kita.htm. Tantangan lainnya memang mencari yang thoyib karena kurangnya pengawasan .
Well, Di Indonesia relatif mudah mendapatkan makanan yang halal, apalagi sudah ada badan sertifikasi halal. Tetapi di dunia lain *belahan dunia yang lain maksudnya* beberapa sulit, selain memang karena memang tidak ada pengawasan tetapi juga karena minoritas. Dan yang lainnya makan babi dan barang haram lain. Kalaupun ada ayam atau daging sapi tentu saja tidak bisa serta merta dimakan karena disembelih selain dengan nama Allah.
Saudara saya yang dulu pernah di korea mengeluhkan hal tersebut, walhasil ‘terpaksa’ makan yang diberikan oleh pabrik , masyaAllah.Kasihan.
Makanan HALAL di TAIWAN
Bisa dibilang di si gampang-gampang susah, jadi gampangnya 2 , susahnya 1
. Dibilang mudah ya mudah, karena di sini sudah ada warung halal Indonesia , filiphina, thailand di beberapa daerah seperti yang dipos oleh teman saya ,
tinggal dicari pake google map, bahkan bisa dilihat langsung jalan maupun tokonya *bagi internet kecepatan tinggi,upss
*. Selain yang ada di peta sebenarnya masih ada beberapa . Seperti di dekat masjid longgang,Chungli ada nasi kuning mbak watik, dan warung melati yang ada baksonya hmm.
Bagi teman-teman mahasiswa, hambatan untuk mendapatkan makanan halal di resto/warung halal karena jara dari kampus cukup jauh , sehingga teman-teman mahasiswa hanya makan saat ke masjid, bakda sholat jumat atau hari Ahad. Terkadang seminggu sekali ada kaetring ke kampus NCU dari mbak watik. Dan sebelum pengajian NCU , juga ada makan-makan. Di masjid setiap hari ahad juga sering ada walimah hehe
.
Lalu bagaimana dengan hari biasa?
Vegetarian food adalah jawabannya, karena sudah menjadi pakem umum, vegetarian food tidak akan tercampur dengan daging apapun, lauknya hanya jamur,tahu/tofu. Sisanya adalah sayur mayuWlaupun rasanya memang sangat berbeda dengan di Indonesia, masakannya full jahe dan baunya sedikit bikin tidak enak *bagi saya yang beginner*
Alternatif kedua, dengan memasak. Alhamdulilah di sini sayuran mentah, ikan, tahu ,telur terdia di toko maupun di pasar dengan harga yang relatif terjangkau.
Jika ada kemauan , pasti ada jalan.Yang pasti makanan yang halal dan thoyib adalah investasi untuk keluarga kita


.Blog berbayar koq gak diupdate
. Memang pas kedatangan saya sedang musim dingin.Cukup ekstrim buat saya yg lama tinggal di Indonesia, tepatnya yg sudah berlapuk2 ria hidup di Malang. Sebelumnya saya transit dulu di Malaysia soalnya pake pesawat Air Asia yang harganya lebih miring. Sekalian jejakin kaki di Malaysia * walau airportnya doang * –> InsyaAllah next ada postingan tentang ini.Malaysia panas, untung pas nyampe di Bandara Taouyuan jaket tdak dilepas *memang sudah dwarning sama suami dan teman saebangku cewek Taiwan*.Cerita ini kita mulai dengan

dan Alhamdulilah beberapa murid kelas yg saya ajar *sudah remaja* mengerti bahasa Inggris dan beberapa ustadznya memahami bahasa arab *modal dikit bahasa Arabnya kepake*.







